Review Album “Mantra Mantra” Kunto Aji

“Setelah pertama kali mendengar album Mantra-Mantra karya Kunto Aji, aku ingin sekali menuliskan pandanganku tentang album tersebut. Dan iniliah saatnya.”

Kunto Aji, seorang musisi muda yang berasal dari Yogyakarta. Sempat mengikuti ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi, ia harus tersingkir dibabak empat besar. Namanya melambung berkat lagu “Terlalu Lama Sendiri”, setidaknya itu yang aku tau dan mungkin itulah pertama kali aku tau seorang Kunto Aji. Lagu “Ekspektasi” karyanya kembali mencuri perhatianku, lagunya jazzy dengan banyak improvisasi, sesuai genre yang aku suka, radarku kembali mengarah kepada Bang Kunto Aji. Terbaru, albumnya yang berjudul “Mantra Mantra” rilis mengusung tema mental health yang dibumbui dengan pengalaman pribadi, membuat album tersebut menarik untuk dicermati. Dalam album tersebut ada 9 lagu, masing-masing judulnya: Sulung, Rancang Rencana, Pilu Membiru, Topik Semalam, Rehat, Jakarta Jakarta, Konon Katanya, Sausade, Bungsu. Menurut hematku, album ini begitu “sempurna” dengan segala detailnya. Pemilihan judul, musik, lirik, desain, sampai frekuensi yang dapat menenangkan tak luput dari perhatian. Akhirnya, aku pikir album ini bisa menjadi “warisan” bagi kita yang membutuhkan, layaknya lagu “Indonesia Raya” yang selalu punya tempatnya.

Urgensi Edukasi Teknologi

Menurut hasil penelitian yang dilukakan oleh Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 dan peringkat literasi bertajuk ‘World’s Most Literate Nations’, produk dari Central Connecticut State University (CCSU) yang diumumkan pada Maret 2016 berturut-turut menyatakan Indonesia ranking 62 dari 70 negara dan ranking 60 dari 62 negara, artikel penelitian tersebut dapat dilihat di https://news.detik.com/berita/d-4371993/benarkah-minat-baca-orang-indonesia-serendah-ini yang ditulis pada laman Kompas pada tanggal 5 Januari 2019.

Mari kita amini sementara hasil penelitian dalam artikel tersebut dengan segala antitesisnya. Lalu, apa hubungan antara literasi dengan tema teknologi yang sedang kita bahas ini?

Jawabannya tentu sangat erat. Dalam kehidupan modern, manusia dapat mempelajari Sesuatu Baru dengan benar jika ditopang dengan tingkat literasi yang memadai, ketika hal tersebut tidak dilakukan, dapat menimbulkan potensi bias pemikiran, sebuah potensi yang dapat menyerang siapa saja, terlebih mereka yang kurang tingkat literasinya.

Sekarang, jika kita melihat gandrung teknologi di Media Sosial, penyebaran Hoax yang kian meresahkan merupakan puncak dari gunung es akan menyebabkan masalah yang lebih serius nan dalam lagi. Ibarat sebuah penyakit, ini akan menjadi kronik jika tidak segera diobati.

Semuanya berawal dari literasi individu yang kurang, belum juga itu diantisipasi, sentuhan teknologi sudah datang, dan edukasi tentang hal tersebut kurang.

Kita tidak harus melulu menunggu pemerintah dalam mengedukasi masyarakat. Kita, melalui lingkungan-lingkungan terdekat bisa menjadi Pendidik Teknologi. Jepang sudah mulai menggaungkan istilah “Revolution Industry 5.0”. Apa Anda kira hal itu berkaitan dengan teknologi? Jika iya, hendaknya kembali meningkatkan literasi kita.

Tidak, Nona.

Seorang daya di semenanjung pantai
Kosong mata memandang jauh
Tidak pula pikiran, tidak pula hati
Hanya ada keinginan yang paruh

Kita tak mengenal kasih yang sesungguhnya jika tidak disakiti,
Kita juga tidak mengenal cinta jika tidak dikhianati,
Lalu kemana kapal akan berlabuh?
Tidak nona, ini untuk yang tiada.

Indonesia itu Memang Indah!

Hamparan hijaunya sawah dan rerumputan…

Rumah-rumah desa yang sederhana…

Gunung yang menantang menjulang…

Diselimuti kabut harapan…

            Ditemani ketinggian, pena, dan pikiran,

            Jari jemari yang mulai menari,

            Memandang apa yang dilihat dan merasa apa yang dirasa,

            Kami memang dan sepakat mencintaimu, Indonesia.